Saturday, November 15, 2008

indonesia juga punya!!!!!

tak sengaja lewat depan rumaaahmu ehh lagi blogwalking, saya baca 1 artikel/berita, ya smacam itulah...

yaituu:
Ketika Milton Glaser menciptakan logo I heart NY pada 1976 dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dia sedang menciptakan sejarah. I heart NY dibuat dalam rangka kampanye untuk mempromosikan pariwisata Kota New York. Logo yang sangat simpel itu menjadi terkenal karena kemudian pemerintah New York mencetaknya di kaus dan berbagai merchandise lain sebagai suvenir. Para pelancong yang datang merasa belum ke New York jika tidak membawa buah tangan berupa kaus putih sederhana tersebut. Dan I heart NY akhirnya menjadi salah satu ikon kota itu selama beberapa dekade, sampai saat ini.


trus mksudnya apa nii???

ya belum ateuu kan masih blum selesai..

Berangkat dari cerita itu saya berinisiatif untuk membuat sesuatu yang khas untuk ibukota kita tercinta, Jakarta. Mungkin tidak semuluk cita-cita para pejabat New York lebih dari 30 tahun silam, yaitu memajukan pariwisata kotanya. Tapi setidaknya ini bisa membuat Jakarta memiliki ikon baru.

Ikon yang saya ciptakan untuk Jakarta mengikuti jejak I heart NY, yaitu simpel dan mudah dipahami. Penggunaan "GW", bukan "Gue" atau "Saya" mencerminkan dinamika kota yang dinamis dan compact. Heart dibuat terbalik agar—bersama hurup "T"—membentuk ikon Jakarta, yaitu tugu Monas.


ini merupakan salah satu terobosan sii mnurut saya,
tp apa nggak lebih ke ngikutin bangsa laen...
soalnya yg beda cuman tulisannya sm modelnya (dikit), konsepnya persis kya orang yg aslinya bkin.

tp yah saya tetep memuji orang yang membuat logo "GW heart kebalik JKT" at least kita tetep bisa berkarya ga diem aj kya orang dongo...
heuheuheu.

untuk liat artikel aslinya tmen" bisa ke:
SINI

Tuesday, November 11, 2008

Responsif, bisnis atau tambahan?

by: Hz_B

Responsif, kata ini pasti tidak asing lagi di lingkungan SMAN 3 Bandung, terlebih bagi guru dan siswa-siswa. Terpintas muncul pertanyaan, apa itu responsif? Apa hubungannya dengan siswa dan guru di SMAN 3 Bandung?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata responsif berarti cepat (suka) merespons; bersifat menanggapi; tergugah hati; bersifat memberi tanggapan (tidak masa bodoh)

Sekarang teman – teman sudah mengetahui apa itu responsif, di SMAN 3 Bandung responsif merupakan salah satu cara untuk mendapatkan materi tambahan bagi siswa – siswa yang tidak mengerti (baca: kurang paham) berbagai pelajaran di sekolah, biasanya pelajaran yang memberi “fasilitas” responsif adalah pelajaran – pelajaran eksak seperti Matematika, Fisika, Kimia, tetapi tidak tertutup kemungkinan ketika siswa meminta secara pribadi “tambahan” kepada guru mata pelajaran lainnya maka itupun bisa dikatakan sebagai responsif.

Sekarang pasti teman – teman bertanya, apakah gratis? Wah, sudah jelas tidak, zaman sekarang mana ada sesuatu bisa didapatkan secara gratis! Lalu, berapa biayanya? Untuk 1 pelajaran dipungut biaya 250.000 rupiah selama 1 semester, memang tidak seberapa bagi mereka yang setiap minggu bisa nonton dan makan di PVJ(Paris van Java), tetapi tidak bagi mereka yang harus berpikir berkali - kali untuk makan di foodcourt BIP lantai atas sekalian dengan nonton bioskop, dan yang biasa makan di WB (baca: warteg bahari). Tetapi memang, biaya tersebut tidak akan bisa menggantikan manfaat yang bisa kita ambil setelah mengikuti responsif, kita tidak perlu malu untuk bertanya kepada guru pada saat responsif, terlebih lagi ketika di kelas saat kita mau bertanya tentang suatu pelajaran dan di kelas itu ada orang yang kita sedang dekati (baca: kecengan) ehmm dn...., pastilah yang dipikirkan adalah gengsi, takut dikira bodoh, atau semacamnya. Nah, di responsif ini teman – teman bisa bebas menanyakan apapun tentang pelajaran itu, mau bertanya mengapa 2x=4 lalu x=2, kemudian rumus kecepatan, apapun! Tapi kalau orang itu juga mengikuti responsif, lain lagi ceritanya.

Ada beberapa fenomena menarik tentang responsif di SMAN 3 Bandung yaitu ketika ada siswa yang kurang paham dengan pelajaran di kelas, tetapi dia tidak punya uang yang cukup untuk mengikuti responsif. Ada juga siswa yang sudah paham dengan pelajaran di kelas, sehingga ia tidak mengikuti responsif, ketika ulangan tiba teman – teman yang mengikuti responsif berkata bahwa soal yang diberi di responsif semuanya keluar di ulangan. Dari sisi guru pun banyak hal yang cukup menarik tentang responsif, menurut sumber - sumber terpercaya saya, ada guru yang seakan-akan membuat responsif sebagai 1 paket dengan pelajaran di kelas, jadi ketika teman – teman hanya mengikuti pelajaran di kelas saja maka teman – teman akan tertinggal materinya dengan teman – teman yang mengikuti responsif.

Sebenarnya sah – sah saja jika seseorang mengikuti responsif, karena itu memang kebutuhan dari siswa tersebut. Selain responsif ada berbagai hal yang bisa dilakukan siswa untuk mendapatkan pelajaran tambahan, responsif hanya merupakan alternatif dari berbagai cara mendapatkan pelajaran tambahan. Tetapi ada satu hal yang harus bisa dipahami bahwa menjadi pintar tidak harus mahal.